Gue baru aja keluar dari klinik kecantikan. Bukan untuk operasi. Tapi untuk konsultasi. Dokter nanya: “Kamu mau mirip siapa?” Gue jawab: “Mirip gue. Gue yang di filter.” Dokter diam. Gue buka HP. Gue tunjukkan foto. Foto dengan filter AI. Kulit mulus. Mata besar. Hidung manungging. Rahang tirus. Gue nggak tahu lagi mana yang asli. Gue nggak tahu lagi mana yang gue. Gue cuma tahu bahwa setiap kali gue lihat cermin, gue kecewa. Setiap kali gue lihat foto asli, gue malu. Gue pengen menjadi versi filter. Versi yang lebih baik. Versi yang lebih cantik. Versi yang bukan gue. Dokter menghela napas. Dia bilang: “Kamu bukan pasien pertama yang minta mirip filter. Kamu bukan yang kesepuluh. Atau keseratus. Setiap hari, ada anak muda datang ke sini dengan foto filter di HP. Mereka nggak tahu lagi wajah asli mereka. Mereka nggak tahu lagi siapa mereka.” Gue diam. Gue nggak sendirian. Maret 2026 ini, ada fenomena yang makin mengkhawatirkan. Surgical selfie. Generasi Z—18-30 tahun—rela dioperasi biar mirip versi AI mereka sendiri. Bukan karena nggak puas dengan wajah. Tapi karena mereka lupa. Lupa wajah asli mereka. Lupa siapa mereka. Lupa bahwa filter hanya ilusi. Ini bukan vanitas. Ini adalah dysmorphia digital. Gangguan citra tubuh yang disebabkan oleh teknologi. Generasi pertama yang tumbuh dengan filter wajah. Generasi yang setiap hari melihat versi sempurna dari diri mereka. Generasi yang akhirnya nggak bisa membedakan lagi mana asli, mana palsu. Mana diri, mana ilusi. Surgical Selfie: Ketika Gen Z Tidak Tahu Lagi Siapa Dirinya Gue ngobrol sama tiga orang yang menjalani operasi untuk menjadi versi filter. Cerita mereka menyakitkan. 1. Dina, 22 tahun, mahasiswa yang menjalani operasi hidung dan rahang. …







