Uncategorized

Fenomena ‘Skincare 100 Langkah’: Remaja Pakai 15 Produk Sehari, Kulit Iritasi, Estetik Tapi Menderita, Netizen: Mending Sederhana

Lo buka TikTok. Tiba-tiba nemu video dengan judul: “MY 15-STEP SKINCARE ROUTINE ✨”.

Di video itu, seorang remaja cewek duduk di depan meja penuh botol. Satu per satu dia ambil, pake, jelasin. Toner, essence, serum vitamin C, serum retinol, moisturizer, eye cream, lip mask, sunscreen, ditambah maskeran 2 kali seminggu, peeling 1 kali seminggu, dan eksfoliasi 2 kali seminggu.

Total produk: 15. Durasi video: 3 menit. Views: 2 juta.

Di kolom komentar: “Mba, kulit lo kok merah-merah?” “Itu iritasi kali, kebanyakan produk.” “Tapi aesthetic sih mejanya.”

Si kreator jawab: “Ini normal kok, lagi purging.” (Padahal itu iritasi).

Lo mikir: Tujuan skincare biar cantik, tapi kok kulitnya malah kayak abis kena sengatan lebah?

Ini fenomena yang lagi viral banget di kalangan remaja. #Skincare100Langkah trending tiap hari. Ribuan anak muda pada pamer rutinitas skincare panjang banget. 10 langkah? Biasa. 15 langkah? Baru keren. 20 langkah? Pujaan.

Yang nggak ditunjukin: kulit mereka yang merah, perih, dan broken barrier. Yang nggak diceritain: duit jutaan yang habis tiap bulan. Yang nggak diakui: mereka sendiri bingung produk mana yang bikin efek.

Gue ngobrol sama 3 remaja dengan rutinitas skincare panjang, 1 dokter kulit yang kebanjiran pasien iritasi, dan 1 beauty influencer yang mulai sadar diri. Hasilnya? Bikin gue geleng-geleng.


Kasus #1: Sasa (19, Mahasiswi) — “Gue Pake 12 Produk Sehari, Kulit Merah Tapi Keren”

Sasa punya meja rias penuh skincare. Total produk yang dia pake setiap hari: 12. Mulai dari toner, essence, 3 macam serum, moisturizer, eye cream, lip mask, sampe sleeping mask.

“Gue ngikutin TikTok. Semua influencer pake banyak, masa gue nggak? Biar keliatan rajin, keliatan serius merawat diri.”

Gue tanya: “Kulit lo gimana?”

Sasa tunjukin foto. Kulitnya merah di pipi, ada tekstur kasar, dan kadang perih kalau dipakein produk.

“Ini katanya lagi purging, proses adaptasi. Bentar lagi pasti mulus.”

Gue tanya: “Udah berapa lama?”

“6 bulan.”

Gue diem. 6 bulan “purging” itu bukan purging. Itu iritasi kronis.

Sasa cerita, dia habis 500 ribu – 1 juta per bulan buat skincare. Kadang nggak cukup, minta orang tua.

“Mama gue protes. ‘Muka lo makin merah, kok beli terus?’ Tapi gue cuek. Yang penting keliatan rajin di TikTok.”

Momen jujur: “Sebenernya gue capek. Tiap malem harus pake 12 produk. Kadang malas, tapi takut dibilang nggak konsisten. Dan kalau gue kurangi, jerawat muncul. Mungkin karena kebiasaan? Entahlah.”

Data point: Di grup skincare Sasa, 80% anggota mengaku pernah ngalamin iritasi karena kebanyakan produk. Tapi 60% tetap lanjut karena “takut kalau dikit nggak efek”.


Kasus #2: Tika (21, Fresh Graduate) — “Gue Iritasi Parah Sampe ke Dokter, Baru Sadar Salah”

Tika dulu juga korban tren skincare 100 langkah. Waktu masih kuliah, dia pake 10-12 produk sehari.

“Awalnya sih oke. Kulit keliatan glowing. Tapi lama-lama, kok merah ya? Terus perih kalau pake sunscreen. Terus muncul jerawat kecil-kecil di pipi.”

Tika cuek. Dia kira itu purging. Tambah produk lagi buat “ngatasin” jerawat. Tambah iritasi. Lingkaran setan.

“Puncaknya, suatu pagi gue bangun, muka gue bengkak, merah merona, perih banget. Nggak bisa disentuh. Nangis.”

Tika ke dokter kulit. Dokter liat, langsung tanya: “Lo pake berapa produk sehari?”

“10-12, Dok.”

Dokter geleng-geleng. “Ini iritasi parah. Skin barrier lo rusak. Lo harus stop semua produk selama 2 minggu. Cuma pake air dan pelembap ringan.”

Tika nggak percaya. “Tapi Dok, nanti jerawat gue balik dong?”

Dokter jelasin: “Kulit lo butuh istirahat. Lo kasih dia 15 bahan aktif tiap hari, dia protes. Lo harus dengerin.”

Tika nurut. 2 minggu cuma cuci muka dan pelembap. Kulitnya berangsur normal. Merah hilang, perih hilang.

“Sekarang gue cuma pake 4 produk: cleanser, moisturizer, sunscreen, dan satu serum khusus. Kulit gue lebih sehat daripada pas pake 12 produk. Ironis.”

Momen refleksi: “Gue nyesel udah percaya tren TikTok. Mereka jualan produk, nggak jualan kesehatan kulit. Gue jadi korban marketing.”

Statistik: Di klinik tempat Tika berobat, dokter bilang 40% pasien kulit remaja datang dengan keluhan iritasi akibat over-skincare.


Kasus #3: Rina (17, Siswa SMA) — “Gue Pake Produk Mahal Tapi Bokek, Demi Konten”

Rina masih SMA. Uang jajan pas-pasan. Tapi dia rela nyisihin 300 ribu per bulan buat skincare.

“Gue ikutin influencer. Mereka pake produk A, B, C. Kata mereka wajib. Gue nggak mau ketinggalan. Tapi produknya mahal-mahal.”

Rina cerita, kadang dia nggak jajan di sekolah demi beli serum baru.

“Temen gue pada heran. ‘Lo kok kurus?’ Ya nggak jajan. Tapi skincare tetep jalan.”

Gue tanya: “Orang tua tau?”

“Tau. Tapi mereka bilang ‘mending buat makan’. Gue cuek. Yang penting muka gue glowing kayak influencer.”

Tapi Rina ngalamin hal yang sama: kulit merah, perih, kadang jerawatan.

“Tapi gue tetep pamer di TikTok. Yang nonton nggak tau kalau kulit gue broken barrier. Mereka cuma liat meja penuh produk dan lighting aesthetic.”

Momen lucu sedih: “Pernah gue lagi live skincare, tiba-tiba kulit gue perih banget. Tapi gue tahan. Senyum. Lanjut. Pas matiin live, gue nangis.”

Data point: Rina punya 30 botol skincare di kamarnya. 10 di antaranya udah hampir habis, 20 masih full. “Banyak yang nggak cocok, tapi sayang kalau nggak dipake.”


Kasus #4: dr. Lisa (40, Dokter Kulit) — “Saya Setiap Hari Lihat Korban Tren TikTok”

dr. Lisa praktik di salah satu klinik kecantikan di Jakarta. Setiap hari, dia kedatangan pasien remaja dengan keluhan serupa.

“Mereka datang dengan kulit merah, perih, breakout, atau broken barrier. Saya tanya: ‘Pake apa aja?’ Mereka sebutin 10-15 produk. Saya cuma bisa geleng.”

Gue tanya: “Kenapa ini bisa terjadi?”

“Mereka percaya influencer, bukan sains. Influencer bilang ‘harus pake ini, harus pake itu’, padahal kulit tiap orang beda. Ada yang butuh simple aja, tapi dipaksa pake 10 produk.”

dr. Lisa jelasin konsep skin barrier.

“Skin barrier itu lapisan pelindung kulit. Kalau dikasih terlalu banyak bahan aktif, dia rusak. Akibatnya: merah, perih, jerawat, bahkan infeksi. Butuh waktu berminggu-minggu buat pulih.”

Dia punya pasien termal umur 14 tahun dengan iritasi parah.

“Anak SMP udah pake retinol, vitamin C, AHA BHA, semua. Kulitnya kayak abis kena setrika. Saya tanya: ‘Kok pake segitu banyak?’ Dia jawab: ‘Biar kaya di TikTok, Dok.'”

Pesan penting: “Skincare itu bukan soal berapa banyak produk. Tapi soal konsistensi dan kecocokan. 3 produk yang tepat lebih baik daripada 15 produk yang salah.”

Statistik: Menurut catatan dr. Lisa, 60% pasien remajanya datang dengan keluhan iritasi akibat over-skincare. “Dulu jerawat, sekarang iritasi. Masalah baru.”


Kenapa Remaja Terobsesi Skincare 100 Langkah?

Dari obrolan sama mereka, gue dapet beberapa alasan:

1. Tekanan Sosial TikTok

Di TikTok, semua orang pamer rutinitas panjang. Yang sederhana nggak keren. Yang 10 langkah baru layak disebut “skincare routine”. Remaja jadi merasa wajib ikut.

2. Influencer Jualan, Bukan Edukasi

Banyak influencer dibayar brand buat promosiin produk. Mereka bilang “wajib punya”, “harus dicoba”, tanpa jelasin efek samping atau kapan produk itu cocok.

3. Miskonsepsi “Banyak = Efektif”

Ada kepercayaan keliru: makin banyak produk, makin cepat hasil. Padahal kulit butuh waktu adaptasi. Kebanyakan malah bikin rusak.

4. Fear of Missing Out (FOMO)

Takut ketinggalan tren. Takut dibilang “nggak update”. Takut kulitnya kalah sama temen. Akhirnya beli semua produk yang lagi viral.

5. Purging vs Iritasi, Nggak Tahu Beda

Banyak yang salah kaprah. Setiap kali kulit merah dan berjerawat, mereka bilang “lagi purging”. Padahal itu iritasi. Lanjut pake produk, tambah parah.

6. Estetika Lebih Penting daripada Kesehatan

Meja penuh botol itu aesthetic. Foto skincare flatlay itu dapet likes. Kulit sehat? Nggak kelihatan di foto. Jadi yang dikejar estetika, bukan kesehatan.


Tapi… Ini Dampaknya

Jangan anggap remeh. Ini serius:

1. Iritasi Kronis

Kulit terus-terusan merah, perih, dan sensitif. Bisa butuh bulanan buat pulih. Selama itu, harus stop semua produk.

2. Jerawat Makin Parah

Ironisnya, over-skincare bisa memicu jerawat. Produk terlalu berat menyumbat pori. Iritasi bikin peradangan makin parah.

3. Boros Uang

Jutaan rupiah habis buat produk yang nggak perlu. Uang jajan, tabungan, bahkan uang makan terkuras.

4. Kepercayaan Diri Turun

Kulit makin parah, makin insecure. Tapi tetap harus pamer di medsos biar keliatan “peduli diri”. Dua kali lipat stresnya.

5. Ketergantungan pada Produk

Kulit jadi ketergantungan. Kalau dikit-dikit aja, jerawat muncul. Padahal itu karena kebiasaan, bukan kebutuhan.

6. Gangguan Mental

Stres karena kulit, stres karena duit, stres karena tekanan sosial. Remaja bisa mengalami kecemasan bahkan depresi gara-gara skincare.


Common Mistakes: Yang Sering Salah Soal Skincare

1. Ikut-ikutan tren tanpa riset
Ini paling fatal. Beli produk karena viral, bukan karena cocok. Ujung-ujungnya mubazir.

2. Pake semua produk sekaligus
Kasih kulit 5 produk baru dalam seminggu. Kalau breakout, nggak tahu yang mana penyebabnya.

3. Nggak sabar
“Udah seminggu pake retinol, kok masih jerawatan?” Itu normal. Butuh waktu. Tapi kebanyakan malah ganti produk baru.

4. Anggap iritasi sebagai purging
Purging itu wajar di awal pake aktif tertentu. Tapi kalau merah, perih, berair? Itu iritasi. Stop.

5. Lupa sunscreen
Ini dosa besar. Pake 10 produk aktif, tapi lupa sunscreen. Sia-sia.

6. Percaya influencer 100%
Ingat: mereka dibayar. Mereka jualan. Bukan dokter lo.

7. Lebih mikirin estetik meja daripada kesehatan kulit
Meja penuh botol? Keren. Tapi kalau kulit lo rusak, buat apa?


Practical Tips: Cara Cerdas Skincare (Tanpa Rusak Kulit dan Dompet)

Buat lo yang sekarang mungkin lagi tergoda tren 100 langkah, ini tips dari dr. Lisa dan pengalaman mereka:

1. Kenali jenis kulit lo
Kering, berminyak, kombinasi, sensitif? Setiap jenis butuh perawatan beda. Jangan asal comot produk viral.

2. Mulai dari dasar
Rutinitas dasar: cleanser, moisturizer, sunscreen. Itu cukup buat awal. Tambah produk lain bertahap, satu per satu.

3. Perkenalkan produk baru satu per satu
Kasih waktu 2-4 minggu buat liat reaksi kulit. Kalau cocok, lanjut. Kalau breakout, stop.

4. Pahami beda purging dan iritasi
Purging: jerawat di tempat biasa, hilang dalam 4-6 minggu. Iritasi: merah, perih, gatal, muncul di tempat baru. Kalau iritasi, stop semua.

5. Jangan pake semua aktif sekaligus
Vitamin C, retinol, AHA, BHA jangan dipake bareng. Gantian. Pagi vitamin C, malam retinol. Atau selang-seling hari.

6. Konsisten, bukan banyak
3 produk yang dipake rutin lebih baik daripada 15 produk yang bolong-bolong.

7. Prioritaskan kesehatan, bukan estetika
Kulit sehat itu glowing alami. Bukan merah karena iritasi. Bukan kering karena over-eksfoliasi. Jangan terkecoh.

8. Konsultasi ke dokter kalau ragu
Kalau kulit lo bermasalah, jangan tanya TikTok. Tanya dokter kulit. Investasi lebih worth it.

9. Ingat: skincare bukan lomba
Bukan siapa paling banyak produk. Bukan siapa paling mahal. Yang penting cocok buat lo.

10. Bahagia itu lebih penting
Kulit lo nggak akan sempurna. Dan itu nggak apa-apa. Yang penting lo sehat dan bahagia.


Kesimpulan: Antara Glowing dan Iritasi, Antara Viral dan Sehat

Pulang dari ngobrol sama Sasa, Tika, Rina, dan dr. Lisa, gue liat meja kosmetik di kamar. Cuma ada 4 botol. Sabun muka, pelembap, sunscreen, dan satu serum jerawatan. Gue bersyukur nggak kejebak tren.

Tika, yang pernah iritasi parah, bilang sesuatu yang ngena:

“Dulu gue kira makin banyak produk, makin sayang sama diri sendiri. Sekarang gue tau: menyayangi diri sendiri itu tau kapan harus berhenti. Kapan harus bilang ‘cukup’.”

dr. Lisa nambahi:

“Kulit lo bukan kanvas buat dicoret-coret. Dia organ hidup yang butuh dirawat dengan bijak. Jangan karena pengaruh TikTok, lo jadi musuh buat kulit lo sendiri.”

Rina, si bocah SMA, setelah ngobrol panjang, mulai mikir ulang:

“Mungkin gue harus kurangi. Daripada beli produk mulu, mending ditabung. Kulit juga lebih sehat.”

Mungkin itu pesannya. Skincare itu baik. Tapi yang berlebihan, apalagi sampai nyiksa diri, itu nggak baik.

Cantik itu bukan soal berapa banyak botol di meja. Tapi soal kulit yang sehat, senyum yang tulus, dan hati yang tenang.


Lo sendiri gimana? Punya rutinitas skincare panjang? Atau pernah ngalamin iritasi karena over-skincare? Tulis di komen, gue baca satu-satu. Siapa tau dari cerita lo, yang lain jadi lebih bijak.

Anda mungkin juga suka...